Home Game Spek Pes 2020 eFootball Paling Minimum

Spek Pes 2020 eFootball Paling Minimum

by m88
Spek Pes 2020 eFootball Paling Minimum

Persaingan antara Konami dan EA Sports sejak tahun 90’an semakin menjadi. Namun tidak bisa dipungkiri, Konami dengan Winning Eleven yang kini di sebut eFootbal dan EA Sports dengan FIFA serisnya memiliki tempat tersendiri di hati pecinta game sepak bola.

Spek Pes 2020 Minimum Requirements (720p)

Requires a 64-bit processor and operating system
OS: Windows 7 SP1/8.1/10 – 64bit
Processor: Intel Core i5-3470 / AMD FX 4350
Memory: 4 GB RAM
Graphics: NVIDIA GTX 670 / AMD Radeon HD 7870
DirectX: Version 11
Storage: 40 GB available space

Spek Pes 2020 Recommended Requirements (1080p)

Requires a 64-bit processor and operating system
OS: Windows 10 – 64bit
Processor: Intel Core i7-3770 / AMD FX 8350
Memory: 8 GB RAM
Graphics: NVIDIA GTX 760 / AMD Radeon R9 270X
DirectX: Version 11
Storage: 40 GB available space

PES 2020 sendiri rencananya telah dirilis pada tanggal 11 September 2019 yang lalu. Bagaimana dengan PC Anda sendiri? Sudah siap menangani game ini dengan kualitas paling maksimal?

Mainkan Game Favorit Kamu di KKbandar.website

Spek Pes 2020 eFootball Paling Minimum

Sekilas Tentang Pes Dan Fifa

Lisensi adalah momok menakutkan lain dari FIFA. Konami harus mundur teratur saat berbicara tentang lisensi. Penyebab FIFA begitu menggurita karena banyaknya klub dan liga yang telah mereka pegang lisensinya.

Pada FIFA 2016 saja tercatat ada 30 liga dan lebih dari 650 klub. Itu belum termasuk tim nasional baik timnas putra ataupun putri. Hampir seluruh liga-liga besar di Eropa dan Amerika sudah dipegang lisensinya oleh EA Sports. Wajar jika mereka digemari para gamers, karena pilihan klub yang semakin banyak.

Coba bandingkan dengan PES yang hanya memiliki sembilan liga. Untuk mengakalinya, WE membeli lisensi ketengan satu per satu ke tiap klub. Keunggulan PES adalah mereka memiliki lisensi turnamen Liga Champions, Europa League, Liga Champions Asia, dan Copa America.

Dominasi lisensi tak lepas dari kedekatan hubungan EA Sports dan lembaga sepakbola tertinggi di dunia, FIFA yang sudah terjalin 23 tahun lamanya. EA Sports-lah yang kali pertama menyadari pentingnya membeli lisensi untuk sebuah game. Kesuksesan membeli lisensi NHL ingin diulang di sepakbola. Dengan lisensi itu EA Sports bebas memakai nama pemain, stadion dan tim NHL untuk game mereka.

Pada 1993, Direktur Eksekutif, Matt Webster sengaja diterbangkan ke Zurich, Swiss guna mendatangi markas FIFA langsung. “Saat membahas nama game, muncul nama EA Soccer. Tapi jika merunut tradisi EA Sports, maka kami harus meminta izin terlebih dulu ke asosiasi resmi, dalam hal ini FIFA,” kata dia.

Kala itu, Webster berjumpa dengan Sekretaris Jendral FIFA, yang masih dijabat oleh Sepp Blatter. Setelah beberapa kali pertemuan, kesepakatan terjadi. Setelah Blatter terpilih jadi presiden FIFA, maka hubungan EA Sports dan FIFA semakin erat.

Kontrak selalu diperpanjang dan tak pernah putus. Tahun 2013 lalu, EA Sports sepakat melakukan hubungan jangka panjang hingga 2023. Posisi EA Sports yang termasuk dalam jejaring dari Blatter wajar membuat Konami kelabakan.

Di sisi lain, hubungan dengan Blatter ini juga membuat EA Sports selalu gagal mendapatkan lisensi UEFA Champions League. Keputusan Presiden UEFA, Michale Platini yang memberikan lisensi itu ke Konami tak lepas dari sisi politis. Semua tahu Platini adalah musuh dari Blatter.

Lepas dari dominasi kepemilikan lisensi, Konami kini sudah tertinggal jauh oleh EA Sports. Mengejarnya teramat sulit. Terlebih jika melihat kondisi internal Konami yang semrawut pasca ditinggal direktur produksi, Hideo Kojima, akhir tahun lalu.

Meski begitu Konami tetap berani bersaing dengan EA Sports. Banyak yang memuji tampilan grafis PES 2016 lebih baik ketimbang FIFA 16. Bulan September ini, keduanya merilis versi terbaru 2017. PES 2017 kembali dipuji karena memilik grafis lebih baik ketimbang FIFA 17. Ini tentu ironi karena tahun ini EA Sports memakai engine Frostbite agar grafis bisa lebih detail

Dari segi fitur, PES membenahi first touch tiap pemain dan presisi operan, selain itu pergerakan natural pemain mencari ruang akan ditambah demi membuat game lebih susah dimainkan dan realis seperti bermain sepakbola nyata. Fitur-fitur ini sudah sayangnya sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh FIFA.

Satu hal membuat FIFA unggul dari PES adalah fitur kreatif mereka. Pada FIFA 17, mereka membikin fitur “The Journey”. Gamer memainkan peran sebagai Alex Hunter dan memulai karir sepakbola dari level amatir. Berbeda dengan carier mode, di sini gamer tidak hanya memainkan Hunter di lapangan, segala kehidupan Hunter di luar lapangan bisa dimainkan oleh gamer – mirip seperti tokoh di The Sim atau The Harvest Moon.

Dunia kini sudah merubah, saat Winning Eleven menggerus FIFA pada dekade 90-an, FIFA unggul gameplay dan WE menang di fitur. Dan masyarakat lebih memilih fitur ketimbang gameplay.

Sekarang kondisi itu di balik, dalam beberapa tahun terakhir para pengamat sepakat bahwa PES unggul dari sisi gameplay, namun FIFA menawarkan pengalaman yang lebih baik kepada para gamer. Sebuah pelajaran dipetik dari persaingan Konami dan EA Sports adalah dalam industri bisnis meniru kompetitor bukan sesuatu aib. Itu adalah solusi untuk menjungkalkan lawan.

You may also like

Leave a Comment